Minggu, 04 September 2011

Definisi, Sejarah dan Fungsi Bahasa Jurnalistik


Ulfa Nurul Fadhillah
109051000011
KPI 4A
Bahasa Jurnalistik
BAB I
Pengertian, definisi, sejarah dan fungsi bahasa jurnalistik
A.    Pengertian dan definisi bahasa jurnalistik
Bahasa jurnalistik menurut pengertian merupakan sarana untuk menyampaikan informasi. Pengguna bahasa yang baik dan benar sangat menentukan sampainya informasi itu kepada khalayak (pembaca, pendengar, penonton) secara jelas. Karenanya, dunia pers atau jurnalistik harus menggunakan bahasa yang baik dan benar agar khalayak dapat memahami informasi yang disampaikan dengan mudah. Selain itu dunia jurnalistik juga memiliki kaidah-kaidah bahasa agar bahasa yang digunakan lebih mudah dipahami dan tidak membosankan khalayak. Prinsipnya bahasa jurnalistik itu harus jelas, padat, ringkas, dan lugas.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara Terminologi mengartikan bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang arbiter, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengindetifikasikan diri. Sedangkan Drs. AS Haris Sumadiria M.Si dalam bukunya yang berjudul “Bahasa Jurnalistik panduan praktis penulis dan jurnalis” mendefinisikan jurnalistik secara teknis, adalah kegiatan yang menyiapkan, mencari, mengumpulkan, mengolah, menyajikan, dan menyebar luaskan berita melalui media massa berkala kepada khalayak seluas-luasnya dengan secepat-cepatnya.[1]
Nah jadi, bahasa jurnalistik menurut Drs. AS Haris Sumadiria M.Si dalam bukunya yang sama adalah sebagai bahasa yang digunakan oleh para wartawan, redaktur, atau pengelola media massa dalam menyusun dan menyajikan, memuat, menyiarkan dan menayangkan berita serta laporan peristiwa atau pernyataan yang benar, aktual, penting dan atau menarik dengan tujuan agar mudah dipahami isinya dan cepat ditangkap maknanya.[2]
B.     Sejarah Bahasa Jurnalistik
Menurut Suhaimi M.Si dan Rulli Nasrullah M.Si bahasa jurnalistik Bermula dari abad ke-19 setelah manusia melakukan revolusi industri, mereka menyempurnakan berbagai teknologi untuk membantu kehidupan mereka. Antara pabrik dengan pertanian pun disambungkan. Manusia tidak lagi hanya melakukan komunikasi antarpribadi dan kelompok. Teknologi komunikasi mempertemukan manusia melalui industri telepon, surat kabar, majalah, fotografi, radio, film, televisi, komputer dan satelit serta internet. Manusia kini berada dalam abad informasi.
Bahasa pers menjadi satu alat. Bahasa, di dalam kehidupan jurnalistik, tidak lagi sekedar sarana penghantar  pesan melainkan menjadi daya dorong lain. Dalam perkembangannya, memengaruhi kegiatan pers sampai ke tingkat pengepingan realitas peristiwa berita. Tata nilai dan norma bahasa jurnalistik menjadi kelembagaan bahasa yang unik, dan bila dipolakan, menginduksi wacana masyarakat ketika menempatkan perspektif atas realitas.
Bahasa jurnalistik sebagai salah satu variasi Bahasa Indonesia tampak jelas kegunaanya bagi masyarakat yang mendengarkan informasi dari radio setiap hari, membaca berita koran, tabloid dan majalah setiap jam, menyaksikan tayangan televisi yang melaporkan berbagai peristiwa yang terjadi di berbagai belahan bumi. Semua berita dan laporan itu disajikan dalam bahasa yang mudah dipahami oleh khalayak, mereka seolah-olah diajak untuk menyaksikan berbagai peristiwa secara langsung. Dengan demikian bahasa jurnalistik itu menjadi bagian tak terpisahkan dalam karya jurnalistik.
Dan akhirnya, Sepanjang tahun 1960-an di Amerika Serikat muncul para perintis jurnalisme baru yang merasa bosan dengan tatakerja jurnalisme lama yang dianggap kaku dan membatasi gerak wartawan pada tekhnik penulisan dan bentuk laporan berita. Mereka melakukan inovasi dalam penyajian dan peliputan berita yang lebih dalam dan menyeluruh. Pada era jurnalisme baru saat ini para wartawan dapat berfungsi menciptakan opini public dan meredam konflik yang terjadi di tengah masyarakat.[3]

C.    Fungsi utama Bahasa Jurnalistik
Menurut seorang pakar bahasa terkemuka, fungsi bahasa dapat diturunkan dari dasar dan motif pertumbuhan bahasa itu sendiri. Diantaranya adalah:[4]
1.      Alat untuk menyatakan ekspresi diri
Unsur-unsur yang mendorong ekspresi : agar menarik perhatian orang lain terhadap kita, keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi.
2.      Alat komunikasi
Komunikasi merupakan akibat lebih jauh dari ekspresi diri. Sebagai alaat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan warga.
3.      Alat mengadakan integerasi dan adaptasi sosial
Melalui bahasa, setiap anggota masyarakat perlahan-lahan belajar mengenal segala adat-istiadat, tingkah laku, dan tata krama masyarakatnya. Ia mencoba menyesuaikan diri (adaptasi) dengan semuanyaa melalui bahasa.
4.      Alat menagadakan kontrol sosial
Kontrol sosial adalah usaha untuk mempengaruhi tingkah laku dan tindak-tanduk orang lain. Tingkah laku itu ada yang bersifat terbukaa (overt: tingkah laku yang diamati atau observasi) dan bersifat tertutup (covert: tingkah laku yang tidak dapat diobservasi). Semua kegiatan sosial akan berjalan dengan baik karena dapat diatur dengan bahasa yang baik.



[1] Sumadiria, AS Haris. 2006. Bahasa Jurnalistik, Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis. Cetakan Pertama. Bandung: Simbiosa Rekatama Media h.4-5
[2] Ibid, h. 7
[3] Rulli Nasrullah, M.Si dan Suhaemi, M.Si. 2009. Bahasa Jurnalistik. Cetakan Pertama. Jakarta: Lemabaga Pendidikan UIN Jakarta. H. 2-5
[4]  Sumadiria, AS Haris. 2006. Bahasa Jurnalistik, Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis. Cetakan Pertama. Bandung: Simbiosa Rekatama Media h. 8-9

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar